✔Shahihkah Tambahan Kata Wabihamdihi Dalam Doa Saat Rukuk Dan Sujud ?
Dijawab oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah
Tentang doa saat rukuk yang dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam _Subhaana Rabbiyal Azhiim,_ dan saat sujud membaca _Subhaana Rabbiyal A’la,_ kami nyaris tak menemukan perselisihan Ulama tentang keshahihan haditsnya. Jika perlu _insya Allah_ suatu saat bisa ana tampilkan.
Namun ternyata adapula yang berisi tambahan _Wabihamdihi_ di ujung masing-masing doa di atas, sebagaimana hadits dan penjelasannya akan disebutkan di bawah ini:
Hadits terkait masalah ini, Uqbah bin Amir radhiallahu anhu menceritakan:
وكان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ إذا ركع قال سبحانَ ربِّي العظيمِ وبحمدِه ثلاثًا ، وإذا سجد قال سبحانَ ربِّي الأعلَى وبحمدِه
_"Dan adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di kala *rukuk membaca Subhaana Rabbiyal Azhiimi Wabihamdihi 3x,* dan apabila *sujud beliau membaca Subhaana Rabbiyal A'la Wabihamdihi."*_ [HR. Abu Dawud no.869, Ibnu Majah no.887, Ahmad no.17414. Hadits di atas juga ada yang bersumber dari Hudzaifah Al Yamani radhiallahu anhu]
Derajat hadits di atas para Ulama telah berselisih pendapat dalam masalah tambahan _Wabihamdihi_ ini sejak dahulu. *Ada yang mengatakan haditsnya telah memenuhi syarat, dan ada yang menyatakannya dha'if sehingga tidak boleh digunakan.*
Awalnya kami ingin menampilkan seluruh argumentasi pihak yang menshahihkan dan mendha'ifkan riwayat tersebut, namun jika kami tulis semuanya, maka ini terlalu panjang dan mungkin perlu disendirikan masalah ini dalam risalah khusus. Maka di sini kami hanya ingin menjelaskan secara garis besar saja.
*Benar sejumlah Ulama ahli hadits telah menshahihkan hadits _Wabihamdihi_ ini.*
*Diantara Ulama yang menshahihkan,* ini diantaranya dikatakan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami' no. 4734. Namun dalam Dhaif Sunan Abu Dawud hal. 70-71, no.880 beliau mendha'ifkannya, sementara dalam Ashlu Shifat Shalat Nabi II:650-657 beliau mencantumkan lagi hadits ini.
*Beberapa Ulama yang mendha'ifkan,* Abu Dawud rahimahullah orang yang meriwayatkan hadits ini sendiri setelah meriwayatkan hadits _Wabihamdihi_, beliau berkata:
وهذه الزيادة نخاف أن لا تكون محفوظة
*"Tambahan ( _Wabihamdihi_) ini aku khawatir tidak terpelihara (periwayatannya)."* (Lihat Sunan Abu Dawud tahqiq al Arna'uth II:152, no.870)
Al Bazar rahimahullah mengatakan:
زيادة [وبحمده] وتركها، أحسبها أتت من سوء حفظ ابن أبي ليلى
*"Tambahan _Wabihamdihi_*, dan (hendaklah) *meninggalkannya,* sebab aku memprediksikan (riwayat tambahan Wabihamdihi ini -pent) datang (dari) *jeleknya hafalan Ibnu Abi Layla."* (Al Bahru az Zakhar VII:322)
As Syaukani rahimahullah mengatakan:
طرقه ضعيفة
*"Jalur-jalur periwayatannya lemah."* (As sailul Jarrar I:288)
Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafidzhahullah
Beliau pernah ditanya:
هل يكتفي المصلي في حال السجود بقوله: سبحان ربي الأعلى، أم أنه يقول: سبحان ربي الأعلى وبحمده ؟
Apakah seseorang yang sedang shalat saat sujudnya cukup mengucapkan _Subhaana Rabbiyal A'la_ ataukah ia mengucapkan _Subhaana Rabbiyal A'la Wabihamdihi_ ?
Beliau menjawab:
يكفيه أن يقول: سبحان ربي الأعلى، فهذا هو الذي لابد منه ...
*"Cukup baginya mengucapkan: _Subhaana Rabbiyal A'la_, maka inilah yang semestinya dilakukan olehnya…"* (Syarah Sunan Abi Dawud oleh Syaikh Abdul Muhsin al Abbad no.107. Kitab ini sebenarnya rekaman audio Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah saat beliau mensyarah Kitab Sunan Abi Dawud yang kemudian dibukukan)
Oleh karena itulah Imam Ahmad rahimahullah pernah mengatakan:
أما أنا فلا أقول وبحمده
"Adapun saya, maka saya tidak *mengucapkan (tambahan) _Wabihamdihi_."* (Al Mughni I: 361)
Seorang Ulama besar Madzhab Syafi'i, yakni Ibnu Shalah rahimahullah juga *mengingkari tambahan _Wabihamdihi_ ini.* (Sebagaimana dikutip oleh asy Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar II:246)
Syaikh Muqbil rahimahullah pernah berkata:
فيه زيادة وبحمده الظاهر أنها صالحة لكن ليست بالقوة مثل سبحان ربي العظيم
*"Didalamya ada tambahan _Wabihamdihi_.* Zhahirnya hadits ini kelihatan shalih (baik), namun *sebenarnya tidak kuat seperti _Subhaana Rabbiyal Azhiimi_ saja (tanpa _Wabihamdihi_)."* (Ithaaful Muqbil bi Syarhi Shifati Shalatan Nabi lil Muqbil hal. 41. Risalah ini sebenarnaya penjelasan Syaikh Muqbil rahimahullah saat beliau mengajarkan masalah shalat di tempat ta'limnya, yang lalu oleh salah satu muridnya, yakni Syaikh Abu Abdir Rahman Abdul Hafizh bin Abdillah Barahim al Aamiri al Hadhrami hafizhahullah dihimpun menjadi satu tulisan tersendiri, dan bahkan diberi ulasan olehnya)
```Kesimpulan```
*Pendapat terkuat dalam masalah ini dan alasannya* adalah,
Pada akhirnya, penulis risalah ini sampai saat ditulisnya risalah ini lebih cenderung tidak menggunakan lafazh _Wabihamdihi_.
Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa kami lebih memilih sikap ini:
1). *Sebagai ihtitiyath (kehati-hatian) dikarenakan diragukannya status hadits tersebut.* Bukankah Tinggalkan apa yang meragukanmu, dan ambil yang telah pasti ?
2). Sementara bacaan yang *telah jelas keshahihannya yang tidak menggunakan tambahan redaksi _Wabihamdihi_ ini cukup banyak,* maka *pilih saja yang telah jelas shahihnya.* _Wallahu a'lam._
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Sumber:
http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/07/shahihkah-tambahan-kalimat-wabihamdihi-dalam-doa-saat-rukuk-dan-sujud.html
🔰 @Manhaj_salaf1
•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•
Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama *GROUP MANHAJ SALAF*
📮 *Telegram:* http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 *Youtube:* http://youtube.com/ittibarasul1
📱 *Group WhatsApp:* wa.me/62895383230460
📧 *Twitter:* http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 *Web:* dakwahmanhajsalaf.com
📷 *Instagram:* http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 *Facebook:* http://fb.me/ittibarasul1
Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.